Tak sekedar Mengenali Bahaya dan risiko di tempat kerja

Posted: May 26, 2012 in Artikel K3
Tags: , , , , , , , ,

Kita seringkali mendengar istilah bahaya dan risiko di tempat kerja. Namun, terkadang kita sering mengabaikan hal tersebut lantaran itu hanya sebuah potensi yang belum tentu terjadi dalam diri kita. Secara harfiah, pengertian bahaya dapat diartikan sebuah potensi yang muncul dari aktivitas atau kegiatan manusia yang berinteraksi dengan mesin maupun lingkungan yang dapat menimbulkan kerugian, baik secara material maupun non material. Sedangkan, risiko merupakan besar kecilnya kemungkinan potensi bahaya tersebut terjadi.

Dalam sistem Manajemen K3, bahaya dan risiko dari aktivitas pekerjaan itu menjadi parameter utama. Bukan hanya untuk diidentifikasi dan melakukan penilaian terhadap potensi-potensi. Bahkan kita perlu melakukan tindakan pencegahan untuk menghilangkan potensi dan risiko yang muncul di tempat kerja. Tentunya, menciptakan lingkungan kerja yang sehat, aman dan selamat menjadi tujuan akhir dari penerapan sistem.

Secara umum, industri melakukan pengklasifikasian bahaya berdasarkan proses dan aktiviitas yang ada di lingkungan kerja. Kategori bahaya yang ada di tempat kerja yakni terdiri dari bahaya fisika, bahaya mekanik, bahaya kimia, bahaya biologis, bahaya ergonomis dan lainnya.  Pengkategorian ini, untuk mempermudah kita dalam melakukan tindakan pengendalian, yakni dengan melakukan pengendalian merekayasa mesin atau alat, pengaturan secara administratif, bahkan yang paling sering dilakukan yakni dengan melindungi manusianya dengan alat pelindung.

Setiap industri, melakukan semuanya itu dengan sistematis. Merancang program-program denganpanduan sistem manajemen K3, bahkan hingga melakukan sertifikasi dengan OHSAS 18001. Namun, kita masih sering mendengar kecelakaan kerja dan angka kesakitan dalam dunia kerja terjadi. Ironisnya lagi, masih ada kejadian-kejadian yang muncul bukan dari aktivitas yang memiliki risiko besar. Justru aktivitas-aktivitas berisiko kecil yang sering terjadi.

Perlu kita sadari, memang suatu hal yang sangat sulit untuk menciptakan nihil angka kecelakaan kerja maupun angka kesakitan kerja. Akan tetapi, bukan berarti tidak mungkin dilakukan. Intinya, kita bukan hanya sekedar mengenalkan bahaya serta tindakan pengendaliannya kepada pekerja. Namun, kita perlu memastikan pekerja tersebut benar-benar memahami betul hingga menjadikan suatu kebiasaan bahkan menjadi suatu budaya dalam dirinya.

Kebiasaan-kebiasaan bersikap dan berperilaku aman,sehat dan selamat memang tidak mudah untuk dilakukan. Hal ini merupakan suatu karakter yang mesti dibentuk dalam diri pekerja. Bukan hanya untuk ditempat kerja saja, dalam setiap aktivitas kehidupan, baik di rumah, di jalan dan dimanapun terdapat aktivitas atau kegiatan dilakukan.

Pemerintah Indonesia telah mencanangkan “Indonesia berbudaya K3 di tahun 2015”. Pencanangan ini merupakan suatu tantangan besar bagi kita semua. Jika, disebutkan “Indonesia berbudaya K3” berati bukan hanya penerapan K3 untuk dunia kerja. Melainkan penerapan ini berlaku untuk setiap aktivitas manusia indonesia secara umum. Di rumah, di pasar, di jalan, di tempat wisata, dan di mana pun setiap aktivitas itu dilakukan.

Perlu kita sadari, pencanangan pemerintah tentang Indonesia berbudaya K3 hanya berfokus pada tempat kerja. Kita masih seringkali melihat tindakan-tindakan tidak aman di jalan. Contoh kecil yang sering dilakukan adalah menelpon saat mengemudi atau mengendarai kendaraan bermotor. Pencanangan ini akan lebih efektif dimulai dari lingkungan kecil di rumah, lingkungan pendidikan dasar seperti taman kanak-kanak, sekolah dasar. Membangun karakter atau budaya akan lebih mudah dilakukan dengan  dimulai sejak dini. Menanamkan filosofi hidup sehat, aman dan selamat kepada calon-calon generasi mendatang. Bukan hanya mengenalkan bahaya dan risiko yang ada saja. Akan tetapi menanamkan filosofi agar kita semua lebih peka terhadap bahaya dan risiko.

Pencanangan ini tugas kita bersama. Kita dapat memulai dari diri kita sendiri, mulai dari hal terkecil, dan dimulai dari sekarang. Semoga kita dapat mewujudkan “Indonesia berbudaya K3” kelak.

 

Jamaludin

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s