Budayakan Keselamatan Sedini Mungkin

Posted: May 3, 2011 in Artikel K3, Dasar-dasar K3
Tags: , , , ,

Budaya K3 – Keselamatan berasal dari kata selamat yang memiliki arti secara harfiah terhindar dari bahaya dan risiko. Perlu kita ketahui, setiap kegiatan memiliki potensi munculnya bahaya dan risiko. Tanpa kecuali bentuk kegiatan tersebut. Baik di tempat kerja maupun di lingkungan rumah ataupun masyarakat.

Salah besar kalau kita berpikir keselamatan hanya untuk aktivitas di dalam dunia kerja. Padahal di sekitar kita di penuhi dengan aktivitas yang penuh dengan bahaya. Sebagai contoh, ketika kita akan menyebrang jalan bahaya apa saja yang mengancam kita pada saat menyebrang.

Sejak kecil kita sudah diajarkan membudayakan keselamatan dalam setiap aspek kehidupan. Kalau kita ingat kata-kata dari seorang guru waktu kita masih duduk di sekolah taman kanak-kanak atau sekolah dasar. Bagaimana seorang guru memberikan suatu nasihat kepada kita untuk selalu berhati-hati ketika berjalan di jalan raya. Kita dikenalkan dengan rambu-rambu lalu lintas, dan diharapkan kita pun mematuhi rambu-rambu tersebut. Namun, apa yang terjadi setelah kita beranjak dewasa. Bagaimana sikap-sikap seorang dewasa di jalan raya? Kita tahu dan memahami bahwa rambu-rambu dibuat dengan landasan untuk keselamatan. Namun, berapa banyak pelanggaran yang dilakukan. Dengan berbagai alasan, mulai dari lupa hingga mengejar waktu hingga tidak sempat melihat rambu-rambu lalu lintas.

Apa yang terjadi dengan pelajaran yang sudah kita Terima sejak kecil mengenai keselamatan? Adakah yang salah dengan pengetahuan yang diberikan oleh guru kita kala itu?

Kembali ke permasalahan budaya keselamatan. Di Indonesia, budaya keselamatan sudah di bangun sejak kita masih duduk di taman kanak-kanak. Namun, setelah kita tahu lantas hal tersebut hanya sebagai pengetahuan bagi diri kita saja. Tetap saja pelanggaran-pelanggaran mengenai keselamatan banyak dilakukan. Hal ini sudah cukup rumit untuk kita analisa. Budaya keselamatan hanya sebagai bentuk slogan, bukan sebagai budaya yang dilakukan oleh setiap individu.

Namun, tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki dan Membudayakan keselamatan. Seperti yang dikatakan filosof, “hal yang terjadi saat ini adalah bentuk akibat tindakan yang kita lakukan pada hari kemarin. Begitupun tindakan yang dilakukan pada hari ini, merupakan hal apa saja yang akan kita Terima pada hari esok”. Kalau sekarang kita berpikir sudah terlanjur, maka esok pun akan semakin memperburuk keadaan dan jangan berharap ada perbaikan.

Tidak perlu berpikir kita harus melakukan hal besar dalam membentuk budaya keselamatan. Tidak perlu juga kita menyalahkan pemerintah dengan ketidaktegasannya terhadap undang-undang keselamatan yang dibuat. Tidak perlu juga kita menyalahkan aparat dan penegak hukum, karena mereka lalai dalam menjalankan tugasnya. Saat ini kita hanya perlu pikirkan, hal apa yang bisa kita lakukan di dalam keluarga kita di rumah dalam membentuk budaya keselamatan.

Merubah budaya, tentunya dilakukan dari hal yang terdekat dari kita. Hal yang paling dekat adalah keluarga kita. Anak-anak kita di rumah. Seperti yang kita ketahui, anak-anak kita adalah masa depan kita. Budaya yang kita sampaikan saat ini ke anak-anak kita merupakan budaya yang akan diterapkan oleh mereka kelak ketika dewasa. Mari kita budayakan keselamatan mulai dari diri kita sendiri, mulai dari keluarga terdekat kita, dan mulai dari sekarang. Jika, setiap keluarga memiliki budaya keselamatan yang bagus, maka sebuah negara yang berisi dari keluarga yang Membudayakan keselamatan tentunya akan menjadi sebuah negara yang Membudayakan keselamatan.

Oleh: Jamaludin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s