Budayakan Disiplin dengan 5 S

Posted: May 10, 2011 in Artikel K3, Dasar-dasar K3
Tags: , , , , , , ,

Seringkali kita melihat dalam Spanduk-spanduk perusahaan slogan mengenai  5 S. Suatu slogan dari program penciptaan langkah menuju suatu budaya disiplin. 5 S merupakan sebuah program dari Jepang, yang memiliki kepanjangan dari Seiri (pemilahan), Seiton (penataan), Seiso (Pembersihan), Seiketsu (Pemantapan), dan Shitsuke (Disiplin). Ini merupakan langkah-langkah untuk Membudayakan sikap, perilaku, dan pada akhirnya membentuk sebuah budaya disiplin di tempat kerja.

Budaya disiplin merupakan suatu budaya yang sangat sulit untuk dibentuk. Apalagi pada suatu tempat yang kata disiplin itu menjadi suatu hal yang asing. Seperti halnya di Indonesia, budaya disiplin ini seringkali dikampanyekan, hingga pemerintah mencanangkan gerakan disiplin nasional (GDN) pada tanggal 20 mei 1995. Namun, pada pelaksanaannya membentuk budaya disiplin itu sangatlah sulit.

Dapat kita bayangkan betapa indahnya jika jalan raya di Jakarta lancar dan tidak macet, semua pengendara mematuhi semua rambu-rambu lalu lintas., dan antrian di setiap loket-loket tidak Berakhir ricuh. Sungguh indahnya suasana seperti itu, jika setiap individu sadar akan indahnya kedisiplinan tersebut.

Membentuk budaya disiplin sebenarnya tidaklah sulit, jika kita melakukannya dengan kesungguhan hati. Hal yang tersulit adalah memulainya. Lalu, hal apa yang dapat kita lakukan untuk memulainya. Sebenarnya program 5 S yang sering kita Lihat di Spanduk-spanduk perusahaan dapat diterapkan dilingkungan keluarga ataupun masyarakat. 5 S pun dapat dimulai dengan mengajarkan kepada anak-anak kita di rumah.

Apa saja yang ada dalam 5 S tersebut?

Langkah pertama dalam program 5 S adalah Seiri atau pemilahan. Kita dapat memilih barang-barang yang masih terpakai dengan barang-barang yang sudah tidak terpakai. Kemudian, mengelompokan barang-barang tersebut, dan kita identifikasi kelayakan dari barang-barang yang sudah kita kelompokan. Apabila setelah identifikasi kita menilai bahwa barang tersebut sudah tidak bermanfaat untuk kita, kemudian kita dapat menyingkirkan barang tersebut. Untuk barang yang masih terpakai, kita masuk ke tahap selanjutnya.

Setelah kita memilih, untuk barang yang masih terpakai kemudian kita akan melakukan Seiton (penataan/ penyimpanan). Penataan atau penyimpanan dilakukan untuk memudahkan kita dalam proses pencairan jika dibutuhkan. Pada tahapan ini, Pelabelan akan membantu kita untuk mempermudah pencairan. Pelabelan dan penataan dilakukan sesuai dengan standard yang dapat dimengerti oleh semua orang. Penataan juga akan mempercantik layout atau tata letak suatu tempat penyimpanan.

Setelah itu, langkah selanjutnya kita melakukan Seiso (Pembersihan). Indikator penentu kebersihan pada suatu tempat adalah debu. Jika, pada tempat kita masih terdapat debu jika dicolek dengan telunjuk. Maka, tempat kita masih dinilai belum bersih. Oleh karena itu, setelah tata letak penyimpanan dan area meja kerja kita sudah tertata dengan rapi, kemudian kita bersihkan untuk menambah nyaman lokasi kerja kita. Selain itu, Pembersihan ini juga berkaitan dengan kesehatan kita. Dapat kita bayangkan berapa banyak partikel kecil tersebut berterbangan dan terhirup masuk kedalam tubuh kita. Berapa banyak jika hal tersebut terjadi bertahun-tahun. Partikel debu tersebut, akan terakumulasi dan mengganggu kesehatan tubuh kita.

Ketiga tahapan tersebut merupakan landasan atau dasar dalam program 5 S. Tahapan tersebut bukan dilakukan hanya sesekali saja. Namun, kita melakukannya dengan rutin. Hal ini berkaitan dengan tahapan selanjutnya yakni Seiketsu (pemantapan). Ini dilakukan agar kita melakukannya secara rutin dan terus menerus. Pada tahapan awal memang akan terkesan menyiksa kita. Namun, jika kita melakukannya dengan senang hati, dan terus menerus. Lama kelamaan, hal tersebut akan menjadi suatu hal yang biasa kita lakukan. Pada akhirnya akan membentuk suatu budaya dalam diri kita. Kita akan kehilangan jika tidak melakukan hal-hal tersebut.

Program 5 S merupakan suatu Pembentukan program yang dimulai dari merubah lokasi kerja, dari perubahan perilaku, yang pada akhirnya akan membentuk sebuah sikap, dan jika hal tersebut sudah menjadi sikap kita hal itu akan membentuk sebuah budaya baru dalam hidup kita.

Inti dari perubahan perilaku tersebut adalah sebuah komitmen dalam diri kita untuk merubah. Hal ini dapat dilakukan untuk segala bentuk perubahan. Jawaban tersebut hanya dapat dilakukan dengan tindakan. Mari kita mulai Membudayakan disiplin dari diri kita sendiri.

Penulis: Jamaludin

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s